Tampilkan postingan dengan label job vacancy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label job vacancy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2010

5 Tips for Ensuring Your Customers’ Privacy

  1. Understand that protecting customers’ privacy is essential to maintaining and increasing sales and profits online.
  2. Develop a privacy policy, post it on your web site, and live by your policy. For guidelines, visit three Web sites: www.privacyalliance.org, www.respectprivacy.com and www.privacyrights.org.
  3. Put top-notch security systems in place to make sure that customer data is not lost, misused, altered or stolen.
  4. Require that third parties with whom you deal provide similar data security.
  5. Don’t provide personal information collected from customers to third parties unless you have explicit permission from the customers to do so.

Brought to you by SCORE, America's small business mentors, at www.score.org.
Ask SCORE

Get more than 8000 Job Vacancy and career tips in Jobs DB Indonesia

Bookmark                                        and   Share


5 Tips for Domain Naming

By Christine Banning, SCORE VP Corporate Relations


1. Create an online identity. Get a Web domain now, even if you aren't building your site until later.

2. Pick three domain names that fit your business. Your first choice may be taken, so have a few domain name ideas. If your top three picks are available, consider getting all three. It's not too expensive and then you have flexibility to create a site for a special promotion or use a special landing page for an event.

3. Check out domain name vendors. You can register your domain with your choice of vendor. Here are some well-known, domain name registrars:

  • Concentric, www.concentric.com
  • Network Solutions, www.networksolutions.com
  • Yahoo Domains, www.yahoo.com
  • GoDaddy, www.godaddy.com
  • Domaindirect.com, www.domaindirect.com

4. Keep your renewal current. Don't forget to renew your domain name. Businesses have been known to let a name expire and then find that their Web site has disappeared from the Internet. Don't let that be you.

5. Once you have a domain, name your URL mycompany.com, place your URL on every marketing and business document that you produce. Let your company be known.

Brought to you by SCORE, America's small business mentors, at www.score.org.
Ask SCORE


Get more than 8000 Job Vacancy and career tips in Jobs DB Indonesia

Bookmark                                        and   Share



Selasa, 15 Juni 2010

Memulai Karier Dari Awal Lagi

Walaupun sudah bekerja cukup lama, dengan posisi yang baik dan penghasilan yang lebih dari cukup, pernahkah Anda berpikir bahwa sesungguhnya Job ini bukan job yang benar-benar ingin Anda lakukan? Terkadang muncul perasaan tidak puas, ingin mencoba sesuatu yang baru, hal yang benar-benar Anda minati. Mengikuti munculnya perasaan tersebut, Anda juga merasakan gejala lain yang seperti mulai melihat dan memfokuskan hanya pada hal-hal negatif dari pekerjaan, padahal banyak hal positif lain yang bisa Anda nikmati. Anda juga mulai melihat pekerjaan sebagai rutinitas yang membosankan, walaupun sesungguhnya posisi Anda yang cukup signifikan dalam perusahaan yang terus memberikan berbagai tantangan dalam tanggung jawab.

Saat inilah muncul keinginan untuk memulai pekerjaan dan karier baru. Terlebih lagi jika Anda sudah mengetahui passion atau panggilan jiwa Anda dalam bekerja, akan semakin besarlah keinginan untuk meninggalkan pekerjaan yang ‘mengeringkan’ jiwa Anda dan beralih ke hal yang benar-benar merupakan passion hidup Anda. Sebelum Anda menyerahkan tanggung jawab Anda sebagai seorang pemimpin dan memulai pekerjaan yang baru, ada beberapa hal yang harus jadi perhatian.


  1. Think and rethink.
    Sebelum meninggalkan semua yang telah dibangun dari awal untuk sesuatu yang belum tentu 100% cocok dengan Anda, pikirkan kembali hal yang membuat Anda tidak suka dari job sekarang. Mungkinkah yang Anda tidak sukai adalah perusahaannya bukan pekerjaannya? Apakah Anda bosan dengan rutinitas dan perlu stimulasi lagi? Mungkinkah Anda hanya butuh istirahat sejenak? Apakah hal tersebut sesungguhnya bisa diatasi dengan mudah? Pikirkan kemungkinan bahwa Anda juga akan merasakan hal yang sama jika Anda bekerja di tempat yang baru.

  2. Analisa kelebihan.
    Bertahun-tahun bekerja dalam satu bidang tertentu yang bisa saja menjadikan Anda ahli. Namun memasuki bidang baru, walaupun memang disukai belum tentu membuat Anda memiliki tingkat keterampilan yang sama. Analisa lagi apakah passion dan kelebihan Anda cukup untuk memulai karier baru dengan konsekuensinya, terlebih lagi jika Anda nantinya harus memulai dari awal lagi, sementara posisi yang dipegang selama ini adalah pemimpin. Analisa juga apakah Anda memiliki transferable skill atau keterampilan yang selama ini dibutuhkan dalam pekerjaan yang lama, juga akan berguna di karier Anda yang akan datang. Contohnya keterampilan manajemen atau keahlian mengoperasikan software tertentu.

  3. Be knowledgeable.
    Hasrat yang besar dan kecintaan akan bidang tertentu harus diimbangi dengan kesediaan Anda untuk memperbaharui keterampilan yang dibutuhkan. Bekali diri Anda dengan pengetahuan, tip dan trik agar Anda mampu keep up dengan perkembangan bidang tersebut. Dapatkan informasi sebesar-besarnya termasuk resiko, persaingan dan segala konsekuensi yang akan Anda tanggung. Jika Anda ingin mengejar impian sebagai fashion designer yang memiliki butik sendiri, update diri dengan tren yang ada, tekhnik dan pemasarannya. Begitu juga dengan bidang lain.

  4. Manfaatkan jejaring Anda.
    Salah satu cara untuk memfasilisasi usaha Anda terjun ke bidang baru adalah dengan mendapatkan informasi dari jejaring Anda. Cara ini mungkin terkesan informal tapi seringkali ada hal-hal kecil yang harus Anda ketahui dari mereka yang telah lama berkecimpung di bidang tersebut. Seperti Jika Anda mengimpikan jadi penulis, ada etika tak tertulis bagaimana mendekati editor atau berapa lama Anda harus menunggu sebelum meminta konfirmasi tentang naskah Anda dari mereka.

  5. Siapkan pengganti.
    Sejalan dengan usaha Anda untuk membekali diri dengan hal yang dibutuhkan untuk berganti karier, mulailah untuk berburu pengganti yang potensial. Ini memang sesungguhnya tanggung jawab HRD, namun sebisa mungkin Anda juga turut ambil bagian dalam memilih. Jangan tinggalkan tim Anda tanpa pemimpin yang kompeten. Terlebih lagi jika Anda memimpin tim yang selama ini menganggap Anda sebagai role model yang mengayomi. Minimize rasa kehilangan dan muluskan masa transisi mereka dengan pemimpin baru yang Anda yakini kompeten dan berkualitas. Jangan putuskan hubungan dengan mereka dan ingatlah bahwa bisa saja dimasa depan mereka memegang peranan penting dalam karier baru Anda nanti.

  6. Remember!
    Anda mungkin tidak bahagia di tempat kerja Anda sekarang, tetapi belum tentu juga Anda akan merasa bahagia di tempat kerja Anda yang baru. Do your best!


Job indonesia , Jobs , Career

Bookmark and Share

Senin, 14 Juni 2010

Tips Cepat dan Mudah Untuk Penampilan Segar bagi Wanita Karir

Seorang wanita pekerja yang harus meninggalkan rumah pagi-pagi sekali untuk menghindari macet agar tidak telat tiba di kantor, terkadang tidak punya waktu untuk berdandan atau memberikan perhatian lebih banyak terhadap penampilan.

Penampilan memang bukan hal yang utama dalam bekerja, walaupun ada beberapa pekerjaan yang mewajibkan penampilan rapi dan menarik. Contohnya pekerjaan di front office, bagian public relations atau customer service yang banyak berhubungan dengan orang dan relasi. Namun penampilan yang menarik juga bisa boost mood untuk memulai pekerjaan.


Berikut ini adalah tips mudah untuk menyegarkan penampilan wanita karir

Noda-noda di wajah.
Walaupun Anda tidak punya waktu untuk memakai make up yang lebih elaborate, usahakan untuk menutupi noda-noda di wajah dan lingkaran hitam di bawah mata menggunakan concealer. Proses ini hanya memakan waktu 1 sampai 2 menit. Oleskan obat tetes mata seperti Visine untuk meredakan peradangan yang disebabkan oleh jerawat, sebelum Anda mengoleskan concelear.

Mata
Aplikasikan mascara pada bulu mata Anda untuk memberikan kesan segar dan mata yang lebih 'hidup'. Proses ini hanya memakan waktu 2 menit untuk tiap mata. Ulaskan eye shadow dengan warna lembut, senada dengan pakaian yang Anda kenakan. Proses kedua ini bahkan hanya memakan waktu lebih singkat dari mengaplikasikan mascara.

Bibir
Jangan lupa poleskan lipstick di bibir Anda. Sesuaikan warnanya dengan warna kulit Anda dan hindari warna 'keras' atau terang. Selain membuat menyegarkan wajah Anda, lip balm atau lipgloss juga membantu mencegah bibir kering yang biasanya disebabkan udara kering yang disebabkan oleh AC.

Rambut.
Beli beberapa jepit rambut atau tusuk konde dekoratif untuk memudahkan Anda menata rambut. Tata rambut gaya twist adalah salah satu cara cepat untuk menata rambut Anda dibandingkan dengan memblow atau men¡¨catok¡¨ rambut Anda setiap pagi.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job

Bookmark and Share

Jumat, 11 Juni 2010

Bisakah Anda menjadi seorang workaholic yang sehat?

Menjadi seorang workaholic sangat melelahkan baik fisik maupun mental. Selalu bekerja dan bekerja membuat tubuh dan mental selalu aktif walaupun tanpa disadari Anda membutuhkan istirahat. Stress, depresi, tekanan darah yang seringkali melonjak adalah beberapa efek buruk pada kesehatan yang akan dirasakan seorang workaholic.

Selain itu kehidupan sosial yang parah, keluarga yang terabaikan adalah dampak dari kebiasaan gila kerja. Sebuah penelitian bahkan membuktikan bahwa pasangan yang workaholic memiliki kemungkinan untuk bercerai lebih besar dari mereka yang bisa menyeimbangkan kehidupan mereka.

Jika Anda adalah workaholic namun tetap ingin menjalani hidup yang sehat dan seimbang, berikut ini adalah tips-tips-nya:

1. Ubah prioritas hidup

Yakinkan diri Anda bahwa ada yang lebih penting selain pekerjaan, salah satunya kesehatan Anda, keluarga dan teman-teman. Apakah Anda rela melewatkan peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga Anda hanya demi sebuah pekerjaan? Apakah Anda tahu dampak buruk bagi kesehatan karena kebiasaan workaholic Anda? Apakah Anda bisa menikmati hasil kerja dengan maksimal jika nantinya Anda menderita sakit berat akibat stress? Pertanyaan - pertanyaan tersebut diharapkan bisa membuat Anda lebih bijak menyusun prioritas.

2. Benahi manajemen kerja Anda.

Setiap karyawan telah memiliki job desc-nya masing-masing. Kerjakanlah apa yang menjadi tugas Anda saja, tidak perlu sungkan untuk menolak pekerjaan tambahan lain jika Anda merasa tidak sanggup atau dirasa menganggu pekerjaan pokok Anda. Atur semuanya berdasarkan skala prioritas supaya Anda lebih fokus dalam mengerjakannya. Benahi juga jam kerja Anda. Workaholic selalu merasa 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tubuh juga perlu beristirahat, gunakanlah hari libur Sabtu atau Minggu untuk benar-benar lepas dari pekerjaan. Tekankan pada diri sendiri bahwa Anda tidak akan bekerja untuk hari itu. Jauhkan diri Anda dari komputer atau alat kerja Anda yang lain.

3. Asupan gizi yang seimbang dan menyehatkan

Berpikir dan bekerja membutuhkan energi yang besar. Imbangi tenaga yang dikeluarkan dengan asupan makanan yang cukup dengan kebutuhan tubuh Anda dan seimbang. Hindari fast food walaupun ini adalah pilihan termudah bagi para workaholic. Perbanyaklah minum air putih untuk mencegah dehidrasi. Kopi atau minuman berkafein lainnya memang dapat mempertahankan konsentrasi dan menjaga stamina, terutama saat lembur, namun ingatlah bahwa kafein yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah, perasaan cemas, gelisah.

4. Olahraga ringan dan cukup tidur.

Sekedar stretching ringan seperti menggerakkan kepala atau merenggangkan otot dapat membantu tubuh menjadi rileks. Belilah alat-alat olahraga yang dapat digunakan sembari bekerja yang banyak dijual di pasaran. Kemudian luangkan waktu untuk tidur. Penelitian menyebutkan bahwa tidur siang selama 20-30 menit dapat menjaga Anda tetap terjaga pada malam hari dan mengembalikan energi.

Ada suatu ungkapan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Pun demikian dengan bekerja. Anda harus tahu batasannya karena tubuh Anda memiliki biology time-nya sendiri. Menjaga diri tetap sehat sekalipun Anda seorang workaholic sangatlah penting karena kesehatan itu mahal harganya. Kerja keras Anda akan menjadi sia-sia jika akhirnya Anda sendiri tidak dapat menikmatinya karena sakit akibat overworked. Ingatlah bahwa work hard is good, but work smart is better. So be smart with your work.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job

Bookmark and Share

Tidur Siang Untuk Produktifitas Kerja

Tidur siang bisa meningkatkan productivitas. Benarkah? Kedengarannya bertolak belakang dengan pemahaman dan praktek yang dilakukan selama ini. Bukankah selama ini kita di’doktrin’ dengan pemikiran untuk memanfaatkan setiap waktu yang ada, termasuk jam makan siang dan setelah jam kerja, untuk meningkatkan productivitas dan kinerja kerja Rasanya tidak terbayangkan jika harus tidur siang di sela-sela waktu istirahat. Alih-alih dianggap sebagai usaha untuk boosting productivity, bisa-bisa saya dianggap pemalas, mungkin itu yang ada di pikiran Anda.

Mengapa sebaiknya tidur siang?


Sebuah fakta yang diujarkan Dr. Sara C. Mednik dalam bukunya “Take a Nap! Change Your Life” justru menganjurkan untuk tidur siang. Menurut beliau, tidur siang membantu proses memori, kesiagaan dan belajar hal baru. Hal-hal penting yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari. Terlebih lagi jika waktu tidur malam kurang dari waktu yang direkomendasikan yaitu 8 jam. NASA juga menyetujui hal yang sama. Penelitian mereka menunjukkan bahwa tidur siang selama 26 menit bisa meningkatkan performa sebanyak 34%.
Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa power nap selama 20 menit di siang hari memberikan tubuh kesempatan untuk berisitrahat lebih baik dibandingkan tidur dengan waktu yang sama di pagi hari. Naturally, tubuh mulai merasakan kelelahan setelah terjaga selama 8 jam, karena itulah tidur siang merupakan saat yang tepat untuk mengembalikan kesegaran tubuh.


Berapa lama sebaiknya Anda tidur siang?


Banyak pakar yang menyarankan untuk tidur selama 15 – 30 menit. Akan tetapi sebuah riset juga menyebutkan bahwa tidur siang selama 1 jam akan memberikan dampak perbaikan dan peningkatan fungsi kognitif lebih baik dari tidur siang hanya selama 30 menit. Namun tentunya hal ini harus disesuaikan dengan waktu yang Anda miliki. Jika waktu yang tersisa hanya 15 menit, manfaatkanlah untuk tidur. Cobalah untuk memejamkan mata dan rileks hingga Anda terlelap. Rileks membantu untuk mengurangi stress dan menyegarkan pikiran Anda. Hal ini tentunya akan memberikan Anda nergi lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan sampai jam kerja berakhir.


Mungkinkah dilaksanakan dan bagaimana?


Beberapa perusahaan di Jepang menyediakan ruangan bagi karyawan yang ingin tidur siang. Bahkan di Cina, ada hukum yang menjamin waktu untuk istirahat sejenak setelah makan siang. Di kota-kota besar di Spanyol, banyak restoran yang menyediakan tempat bagi karyawan untuk tidur sejenak setelah makan siang. Sudah sejak lama tidur siang jadi kebiasaan masyarakat di kota-kota di Eropa. Mulai banyak manajemen perusahaan yang memperhatikan kebutuhan tidur siang karyawan karena lagi-lagi sebuah penelitian membuktikan kalau pekerja yang terlalu lelah bisa merugikan perusahaan hingga USA $150 milyar karena productivitas yang berkurang.


Bagaimana di Indonesia?


Di Indonesia rasanya belum ada perusahaan yang menerapkan kebijakan untuk tidur siang. Alhasil, karyawan harus pandai-pandai memanfaatkan waktu istirahat yang ada untuk tidur siang. Karena waktu terbaik untuk tidur siang adalah sekitar jam 1 – 3 siang, cobalah untuk menyisihkan waktu setelah makan siang untuk memejamkan mata sejenak, walaupun waktu yang tersisa hanya 5 menit. Padamkan lampu ruangan atau carilah ruangan yang minim cahaya dan suara karena kedua faktor ini membantu untuk terlelap lebih cepat.


Jika Anda tidak memiliki waktu sama sekali untuk tidur siang atau merasa tidak nyaman melakukannya di tengah hingar bingar kantor, cobalah untuk melakukan meditasi. Hal ini memberikan kesempatan bagi tubuh untuk istirahat dan membantu memproduksi gelombang otak yang sama seperti saat kita tidur.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job


Bookmark and Share


Kamis, 10 Juni 2010

Five Things Not to Do When You Leave Your Job

By Dawn Rosenberg McKay

Leaving a job is often upsetting, whether you were fired or finally decided to quit. You may have trouble remembering to do the right thing. Here are five things you should avoid doing.

1. Don’t tell off your boss and co-workers, even if you think they deserve it.
When you leave your job, your emotions may be running high, especially if you are leaving on bad terms. You may want to tell your boss or co-workers what you really think of them. Don’t do it, even if they truly deserve it. You never know who you will meet down the road and who you may have to work with one day.

2. Don’t damage company property or steal something.
You may feel you were mistreated by your employer and you may be really angry. However, vandalism and theft are criminal offenses. Not only will your professional repution be damaged by your actions, you could end up in jail.

3. Don’t forget to ask for a reference.
This may sound like an odd thing to consider if you are leaving your job on unfavorable terms. However, you will have to include this job on your resume, so you should try to make sure you get either a good or, at least, a neutral reference. If you’ve been fired because of some horrible offense, this may be a moot point. However if your parting is due to something less serious, you may be able to ask your boss for a reference, in spite of the fact that “things didn’t work out as expected.”

4. Don’t badmouth your employer or any of your co-workers to your replacement.
First of all, it will only look like sour grapes, so there’s nothing to gain here. Second, your successor will figure things out for himself or herself. Third, it may have been bad chemistry, and your co-worker will have a totally different experience than you did.

5. Don’t badmouth your employer to a prospective employer when you go on a job interview.
The only person who this will make look bad is you. Your prospective boss will wonder what caused your relationship with your prior employer to sour and will suspect that you could have been at fault.


Indonesia Job , Jobs Info , Job vacancy

Bookmark and Share

Rabu, 09 Juni 2010

Lebih Mengenal Head Hunter

Pernahkah Anda mendengar istilah head hunter? Jika belum, head hunter adalah istilah yang digun

akan untuk menyebut para konsultan yang jasanya dipercaya oleh para perusahaan untuk mencari atau hunt para top professional atau senior executive dengan keahlian spesifik dan khusus, yang tidak bisa atau jarang ditemukan dengan iklan lowongan kerja biasa.

Dikalangan professional atau high level executive, ada kebanggaan tersendiri jika mereka sudah dihubungi oleh head hunter. Hal tersebut menandakan bahwa reputasi, kredibilitas dan prestasi kerja mereka dikenali dan dibutuhkan. Karena itulah telepon dari head hunter sering kali diidentikkan dengan kabar gembira bagi para eksekutif karena besar kemungkinan mereka akan ditawari pekerjaan yang mungkin saja lebih baik dan memberikan kompensasi lebih.


Bagaimana cara head hunter mencari kandidat ?


Setelah mendapatkan kualifikasi spesifik mengenai posisi yang dibutuhkan dari HRD perusahaan, head hunter akan mulai 'berburu' kandidat yang sesuai. Memang umumnya sebuah perusahaan executive search sudah membangun network yang cukup kuat sebelum mereka mulai menerima tugas dari klien, akan tetapi masih ada kemungkinan tidak memiliki database kandidat yang cocok. Beragam cara bisa dilakukan seorang konsultan untuk riset kandidat. Kreatifitas adalah kuncinya. Memasang iklan di media cetak terkemuka atau di website yang sudah ternama bisa jadi salah satu pilihan. Sama halnya dengan referensi yang seringkali jadi sumber informasi kandidat yang efektif. Perusahaan kompetitor bahkan bisa jadi sumber informasi database yang besar bagi para head hunter. Bukan tidak mungkin kandidat yang awalnya bekerja di perusahaan kompetitor akhirnya pindah ke perusahaan saingannya karena tawaran yang lebih menggiurkan. Inilah yang membuat head hunter sering dujuluki 'pembajak'.


Bagaimana cara kerja head hunter ?

Tanggung jawab head hunter tidak berhenti walaupun sudah mendapatkan kandidat yang sesuai dengan kualifikasi yang disyaratkan perusahaan. Interview sebagai seleksi awal masih harus dilakukan untuk memastikan bahwa kandidat memiliki kepribadian dan karakter yang sesuai dengan posisi tersebut. Setelah head hunter memastikan bahwa kandidat mereka qualified, barulah nama dan CV kandidat tersebut dikirimkan ke klien. Selanjutnya head hunter akan mengatur jadwal interview potential candidate dengan klien dan menindaklanjuti hasil wawancara tersebut.


Apa yang dibutuhkan untuk menjadi head hunter yang ideal ?

Tidak ada gelar akademis khusus yang harus dimiliki seseorang untuk terjun ke profesi ini. Yang pasti, seorang konsultan executive search harus memiliki communication skills yang baik, memiliki network atau jejaring yang luas, mampu menyelami karakter, menggali kompetensi dan keahlian seorang kandidat untuk melakukan penyeleksian awal. Konsultan juga harus memiliki kemampuan riset yang baik. Seringkali klien berasal dari bidang yang tidak terlalu popular sehingga ia dituntut untuk bisa mendalami suatu bidang tertentu melalui riset. Riset bisa dilakukan melalui Internet, referensi, bahkan terjun langsung ke 'lapangan'.


Tantangan di bidang ini

Seringkali kandidat yang di "approach" oleh head hunter tidak pernah mendengar istilah head hunter atau executive search. Beberapa dari mereka bahkan curiga saat dihubungi. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan head hunter dan kesempatan baik yang dibawa oleh para konsultan kepada para professional. Sama halnya dengan kepercayaan dari klien. Tidak semua HRD perusahaan familiar dengan jasa head hunter dan seringkali tidak mengerti mengapa mereka harus menggunakan jasa mereka. "Saat berusaha mendekati kandidat yang potensial, terutama mereka yang sudah berada di level top executive, seperti CEO, CFO, seringkali kami mengalami kesulitan untuk 'menembus' birokrasi yang panjang sebelum akhirnya bisa bicara langsung" demikian ujar Helny Widiastuti, Manager Prestige Consulting, perusahaan yang juga bergerak di bidang ini.


Bagaimana prospek profesi ini dimasa yang akan datang ?

Dengan proses rekrutmen untuk senior atau top executive yang bisa berlangsung panjang dan seringkali rumit, kehadiran head hunter atau executive search sangat membantu. Terutama perusahaan-perusahaan besar yang operasionalnya bergerak dengan dinamis, head hunter dengan kekuatan data base, jejaring dan research skill membantu mendapatkan kandidat dengan ketepatan hingga 90%, dalam waktu yang cukup singkat. "Di masa yang akan datang akan makin banyak perusahaan yang menyadari bahwa untuk mendapatkan kandidat top executive yang berkualitas mereka tidak harus menjalani seluruh proses rekrutmen yang seringkali panjang. Head hunter bisa membantu menghemat waktu, tenaga dan effort dengan hasil yang baik" lanjut Helny lebih jauh lagi.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job

Selasa, 08 Juni 2010

Resume Writing Should We State Our Hobbies And Interests

By: Paul Hata

Resume Writing Should We State Our Hobbies And Interests


There are two types of resumes: chronological and functional. As its name implies, a chronological resume is one that lists your experience and education in order, starting with the most recent jobs or achievements.

This type of resume is sometimes also referred to as reverse chronological resume, because the order of the listing starts with your current employment.

Functional resumes focus on your qualifications, not your career timeline. This style of the resume highlights what skills you have, rather than where and when you acquired or utilize them. In other words, instead of listing your experiences by your job titles, your resume will contained sections titled by your skills such as verbal and written communication, customer satisfaction, project management, etc.

The functional resume style is recommended for college students seeking internships or their first jobs out of college, for those with no professional experience, those who have not worked for some time, or for career changers.

This resume style allows you to reference your hobbies and interests in a way that apply to your career objective only; listing hobbies and interests outside of your career objective is not recommended as it doesn't promote you as a professional in any way.

Any time you are composing a resume, it is important to keep in mind your career objective. You want to present yourself in a best possible light to your potential employer. Thus, the information on your resume has to answer one question: Why are you the best candidate for the job?

The biggest mistake people make on their resumes is including information that is not related to their professional experience. Facts pertaining to your volunteer positions, community work, interests and hobbies that disclose your race, ethnicity, gender, age, sexual orientation, religious beliefs or any personal descriptors that do not directly impact your professional performance must be excluded from your resume.

The functional resume does not require you to list names or organizations you have worked or volunteered for; thus, you can list the experience you have acquired there without potentially disclosing any demographic information. Additionally, don't create a separate section on your resume for hobbies and interests. This is typically seen as amateur, and gives your resume less credibility.

Listing hobbies and interests as they apply to the position you are applying for should be done under specific functional sections. For example, if you are seeking a position in graphic design, and have samples of work that you have done as a hobby, indicate this fact on your resume or in your cover letter.

If your hobbies are related to the type of work you are seeking utilize them to your advantage. If you have read books or completed seminars at the community center that are applicable to your job, make a mention of them. Any employer will welcome the opportunity to have you demonstrate the qualifications that make you a perfect candidate for the job.

As a final step, have a friend review your resume, or if you are a college student, seek assistance from a career center at your school.

Having another person review your resume will help uncover any items that may raise questions about your experience or education, as well as address if the inclusion of your hobbies and interests works to support your career objective.

Perfecting your resume will assure that you show your potential employer that you are the best candidate for the job.


Indonesia Job
, Employment , job vacancy

Senin, 07 Juni 2010

How to be a Good Public Relations Officer

Among so many events that happened in Indonesia last year, this event can be regarded as one of the most shocking to the world of public relations. A public relations officer of an elite shopping mall in Jakarta gave a controversial statement about the incidence of suicide by a man in his Job place. Instead of empathizing and cast a reassuring sentence, instead she clearly deplores this incident and blames the players who chose the location of the mall to run the action.


The statement becomes controversial and. Most people assume that sarcastic tone of the comments is inappropriate posted by a public relations that in fact represent the corporate image which involved in the incident. The result, people began to question the competence of the PR being assessed careless in dealing with the crisis of his company. Maturity of thought, precision processing of words and how good communications are not seem to be practiced by the public relations officer when dealing with the media.


Public relations, though often equated with “humas”, but have differences in the jobs description. Duties of a PR is much broader than just dealing with clients or the media. According to Edward L. Berneys in his book, Public Relations, a PR has three functions, namely: as a conduit of information to the public, persuasively be modifiers public attitudes and behavior towards the institution / company for the benefit of both parties, and as an integrator between attitudes and actions of institutions with an attitude public and vice versa. The bottom line is responsible for maintaining a public relations and maintaining good relations with the public so as to create a positive image about the company.


To achieve all these goals, public relations must have communication. There are five elements in the communication process that must be mastered: source / communicator (the person who becomes a source, it can the competent authority / himself): message (message to be conveyed); channel (media / means of delivery of messages), the target audience (the recipient group message); and effect (impact happens to communicants after receiving the message).


In the case above, the public relations officer apparently did not think the target audience (the victim's family and community) and the effect of his statement to the public.
Mistakes made by a public relations catastrophe could be fruitful for the company image. A statement by the PR firms is supposed to represent the attitude towards a condition of things. Therefore, delivery must also be appropriate to prioritize the aspects of mutual understanding between both parties.


Before the judging and labeling a PR with bad or good, it's good to know what it takes to be a good PR as excerpted from a resume that was written by Daniel Buana as following:


1. The ability to communicate.
And this is not limited to verbal communication but also visual and even writing. A PR must be fluent in communicating in different types of media, such as presentations, interviews, dialogues, create news / articles / press releases, and so on. Aim to function as information or communicator. He must know how to treat the media in accordance with the characteristics, target audience, and effects that will generate the communicants (receiver of the message).


2. Managerial capacity / leadership.
It is important to translate the vision and mission of top management. He must know the ins and outs of the company, understand the behavior and attention to customers, employees and other groups with an interest in his duties as a liaison. PR is often faced with a crisis situation that requires rapid and appropriate response. Necessary of maturity to think and to act fast to be able to handle the situation in a calm and elegant. Soul of leadership is also needed for coordination between the parties concerned.

3. Ability of mingle and build relationships.
Flexibility in dealing with various types of personality and ability to interact with people from various levels, Included also use networking to get the required information like a detective. Mix versatility is also important to build a positive opinion on the company so as to create a trusting relationship. It needed people with extrovert personality type to be able to carry out this task.


4. An honest and credible personality.
A PR should be someone who can be trusted. What he said should be based on facts, not just a sweetener in order to increase the popularity of his company. The information provided must be accurate and quite important to know the community. In addition, in performing his duties he must comply with the ethics and upholding morality. Although his job is to maintain a positive image of the company remain in the public eye, but does not necessarily make a PR feel entitled to impose other parties that opposed him. PR should make a statement that a neutral, objective, sympathetic, and attention to human values.

5. Creative and rich ideas.
Having extensive knowledge with the ability to think creatively and critically is needed primarily to deal with various issues that require resolution alternatives. Public relations opportunities should also be good at reading and see the gap where he could improve the company's excellence in public. The ability to create new strategies to expand the relationship between companies and the public becomes an important criterion to be held by public relations


Job Vacancy , Indonesia Job , Career , Job Indonesia