Tampilkan postingan dengan label working artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label working artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

Jika Anak Buah Anda Lebih Tua

Dinamika dunia kerja yang semakin bergerak cepat, ditambah dengan persaingan yang semakin ketat seringkali jadi faktor yang mendorong percepatan kerja dan karir karyawan. Seringkali ditemui karyawan yang mampu mencapai posisi yang cukup tinggi di usia yang masih relatif muda.

Ditambah lagi dengan adanya perubahan demografik di dunia kerja. Manusia hidup dan bekerja lebih lama karena perubahan ekonomi menuntut mereka untuk terus bekerja dan menunda masa pensiun. Sebuah penelitian di Amerika bahkan memperkirakan bahwa sampai dengan 2012 diperkirakan karyawan yang berusia di atas usia 55 tahun akan mencapai jumlah hampir 20% dari keseluruhan karyawan yang bekerja.


Dalam budaya kita, seorang pemimpin yang lebih muda dari karyawannya harus bekerja ekstra keras untuk membangun kepercayaan dari mereka karena terkadang senioritas masih dijunjung tinggi. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan agar hubungan professional Anda dengan karyawan Anda tetap maksimal dan Anda bias memimpin mereka dengan sebaik-baiknya.

1. Jangan percaya dengan stereotype karena tidak semuanya relevan.
Anda sebagai pemimpin mungkin menilai bahwa karyawan yang lebih tua tidak memiliki keahlian yang update dan malas untuk mempelajari hal-hal yang baru sesuai dengan perkembangan jaman. Namun sesungguhnya banyak dari mereka yang tetap eager dan semangat untuk mempelajari hal-hal baru walaupun posisi mereka sudah "mentok". Senior juga terkenal memiliki segudang pengalaman yang juga berharga karena they are around longer than you.

2. Be humble.
Walaupun Anda lebih muda dan sudah jadi seorang pemimpin, Anda tidak akan bisa bekerja sendiri dan meraih target dengan maksimal tanpa bantuan mereka. Anda juga tidak bisa earn their respect kalau Anda tidak menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang rendah hati.

3. Akui adanya perbedaan usia.
Setelah melakukan pertemuan dengan semua anak buah Anda, adakan juga pertemuan dengan bawahan Anda yang perbedaan usianya sangat signifikan dengan Anda. Sampaikan bahwa Anda menyadari ada perbedaan usia yang cukup besar dan mengakui bahwa akan timbul hal-hal yang sedikit tidak nyaman. Namun jangan jadikan ini sebagai halangan untuk berkomunikasi dan bekerja secara profesional. Jelaskan pula bahwa Anda mengharapkan pengalaman dan pandangan karyawan tersebut akan memberikan kontribusi yang besar bagi perusahaan dan kepemimpinan Anda. Jangan sampaikan permintaan maaf, you deserve the position. Anda tidak akan dipercaya sebagai pemimpin jika Anda tidak memiliki kemampuan.

4. Terbuka terhadap saran dan kritikan.
Kelola anak buah Anda dengan rasa percaya diri, namun tetap biarkan mereka menyampaikan aspirasi mereka dan kritis terhadap pekerjaan, lingkungan kerja dan kepemimpinan Anda. Anda tidak harus mempertimbangkan dan melakukan semua saran mereka karena keputusan terakhir toh tetap di tangan Anda.

5. Saling bantu.
Lumrah orang yang lebih tua untuk menceritakan pengalaman mereka dan memberikan sedikit nasihat kepada mereka yang lebih muda. Demikian juga dengan karyawan yang lebih tua dari Anda. Namun Anda sebagai pemimpinnya juga wajib mendorong dan memfasilisasi mereka agar tetap mengupdate ilmunya, mempelajari hal baru yang berkaitan dengan pekerjaan. Mutual learning ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan komunikasi professional Anda dan anak buah Anda.


Remember! :
Janganlah orang lain menganggap Anda rendah karena Anda muda, tetapi jadilah model yang baik di setiap aspek kehidupan mereka, maka semuanya itu akan hilang ditelan waktu.

Job , Career , Jobs

Secrets You Need To Keep From Friends at Office

Socialize it shall be done in your work. Maintain a good relationship with colleagues not only makes your job so much more smoothly, but also make you more comfortable in doing your job. Friendly environment is one factor that can make an employee eager to complete their responsibilities.

Good relationships with colleagues sometimes can be developed into every a good friend. You spend time with him after work hours, 'chat' about personal matters or on the job. Yet, as intimate as you intimately with colleagues, there are limitations on what can you 'talked about' with them. Among them are as follows:



Your efforts to find a new job. Maybe you're excited when you found a suitable job opportunity or be called for tests and interviews. You want to immediately share stories with people closest to you, including a friend who is an office colleague. However, no matter how much desire, you better hold 'lust' storytelling. It is not impossible this news will be circulated among the management and they start to doubt your loyalty to the company, though you are determined to continue to fulfill your responsibility to find a new job. If you find that you will decide to stay in the company right now, this issue will affect the possibility of promotion that you will receive.



Salaries and allowances amount you receive. Salary is a sensitive issue that should not be discussed with other employees. Even some companies cautioned to any matters relating to the amount of salary, allowances or bonuses are not discussed with other employees. The goal is not arise the atmosphere of unpleasant and unconducive to work because another co-worker's salary envy. HRD has its own assessment to determine the amount of salary. This is sometimes not known to all employees so they feel better able to assess the salary received by them and other employees.


Problems about other coworkers or about your boss. Not all day is sunny day at work. Sometimes you have to get unpleasant treatment from your employer, who brought forward the deadline suddenly or work to be revised on a total of over a member of your team whose job it is incompetent. I think you want to 'explode' moment and express your resentment and anger against a boss or colleague to a friend's office. But be careful with these measures. Discuss colleague or boss behind them will affect less well for you. like you're creating a self image as professionals and employees who do not respect your boss, like finding trouble or trouble maker. It is not impossible they also assume you are inciting to hate the boss or other colleagues. In addition, publicly or openly express dislike you will create an uncomfortable work environment for other employees.



Personal Life. Sometimes complaining can make you feel lighter in the face of problems. But get used to not explore your personal problems to a friend's office. There is no point in telling your love story failure, the amount of your current boyfriend, an argument with husband or boyfriend. Instead you will be judged as someone who can not handle your own problems. Moreover, even if you feel you are close to a friend's office, he may not feel comfortable listening to all your stories and laments.


Chat that is racial. It is no longer its time talking about things related and offensive racial. Particularly in the office. Do not let your campaign is blocked in the future because you never reveal your preferences about racial intolerance of other employees in the office.
Have you ever falsified a letter you sick. Sometimes due to reasons saturated, or bored there are times when you are not eager to work and choose to lie to say that you are sick to the boss. Saturation is the thing that's understandable, but lying and skipping work is not something to be proud of, much less to say to a friend's office.


Indonesia Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Kamis, 17 Juni 2010

Liburan Tanpa Interupsi Pekerjaan

Asyik, liburan sudah tiba! Terbayang di pelupuk mata hamparan pasir putih, ombak yang bergulung pelan, angin pantai yang menghembuskan aroma laut yang menenangkan, begitu indahnya. Tapi seketika lamunan Anda buyar saat seorang staff mengantarkan berkas-berkas pekerjaan ke meja Anda. Aarrrgh, ternyata semuanya hanya khayalan belaka, yang ada dihadapan Anda sekarang justru tumpukan pekerjaan yang harus segera dikerjakan. Meski bulan Juni-Juli ini identik dengan musim liburan, karena bertepacatan dengan liburan sekolah anak-anak, tapi Anda justru terjebak di kantor dengan segudang tugas-tugas. Padahal anak-anak dan keluarga sudah merengek-rengek mengajak liburan bersama. Kalau begini Anda jadi serba salah, liburan stress, tidak liburan lebih stress. Lalu apa yang harus Anda lakukan?


Pilih saja opsi liburan tanpa stress. Nikmati liburan bersama keluarga tanpa harus merasa bersalah karena telah meninggalkan pekerjaan. Anda berhak mendapatkan waktu untuk istirahat dan me-recharge stamina agar tubuh tidak terlalu terforsir. Liburan juga membantu Anda mendekatkan diri kembali dengan keluarga dan bahkan dapat menambah teman-teman baru yang berarti memperluas hubungan sosial Anda. Ketahuilah bahwa kantor Anda akan tetap berjalan bahkan jika Anda tidak ada di sana. Bagaimana cara berlibur dengan tenang tanpa interupsi dari pekerjaan? Berikut tips yang bisa membantu Anda.


1. Timing yang tepat dan aktifitas alternatif.

Meskipun waktu ideal berlibur adalah saat liburan sekolah anak-anak, tapi dengan tuntutan sebagai professional, be flexible with it. Jika load pekerjaan sedang tinggi, tunda-lah waktu libur sampai ketegangan sedikit mereda. Jika Anda mempunyai anak, siapkan sejumlah aktifitas untuk mereka agar tidak cranky karena tidak kemana-mana selama liburan. Ikutkan mereka dalam aktifitas sederhana namun baru dan menarik bagi mereka seperti mengikuti les melukis dengan cat air, membuat kerajinan pottery atau bahkan mengikuti berbagai kegiatan aktifitas klub olah raga yang menarik bagi mereka. Dengan demikian Anda bisa bisa meneruskan proyek dan anak-anak tidak mengeluh.


2. Buat rencana.

Setelah mendapatkan waktu yg tepat, buatlah rencana tentang semua yang berkaitan dengan liburan Anda. Contohnya; jadwal berangkat dan pulang, transportasi, akomodasi selama di tempat berlibur, perlengkapan yang dibutuhkan. Jika Anda berlibur dengan anak-anak, daftar perlengkapan akan semakin panjang dan aktifitas harus direncanakan dengan lebih seksama. Perhitungkan dengan tepat waktu yang dibutuhkan untuk menuju dan kembali dari tempat berlibur. Jangan sampai pulang terlalu mepet dengan waktu masuk kerja Anda, sehingga Anda tidak sempat beristirahat dan menyesuaikan diri dengan rutinitas bekerja. Paling tidak sisihkan jeda waktu sehari berdiam di rumah sebelum Anda kembali kerja.


3. Delegasikan pekerjaan sebelum cuti.

Serahkan sebagian tugas-tugas Anda kepada bawahan atau rekan kerja yang Anda percayai. Adakan briefing agar pengganti Anda tahu apa dan bagaimana tugas-tugas Anda harus dikerjakan. Jika pekerjaan Anda berhubungan dengan klien, informasikan pada mereka bahwa Anda akan pergi berlibur dan sudah menunjuk pengganti untuk mengambil alih tugas Anda selama Anda pergi. Jangan lupa untuk mengatur setting email Anda agar setiap email kerja yang masuk dapat di balas dengan auto email yang menginformasikan bahwa Anda sedang berlibur.


4. Batasi menerima telepon, tinggalkan laptop.

Untuk sementara tinggalkan segala hal atau benda yang akan membuat Anda berhubungan dengan pekerjaan. Tinggalkan laptop di rumah. Batasi pula menerima telepon dari kantor, jika memang Anda tidak bisa mematikan HP Anda sama sekali. Sebelum pergi berlibur sebaiknya Anda memberikan nomor telepon darurat kepada pengganti Anda saja just in case ada masalah tentang pekerjaan yang mendesak hingga liburan Anda harus diinterupsi.


5. Komitmen hanya untuk berlibur.

Lupakan segala urusan kantor dan nikmati waktu liburan Anda. Ada kalanya seseorang tidak bisa menikmati liburannya karena selalu teringat pekerjaan di kantor. Pekerjaan Anda telah ditangani orang lain, jadi tidak ada alasan untuk khawatir berlebihan.

Liburan pada intinya adalah untuk melepas beban stress dari pekerjaan Anda. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan bahwa tidak pernah mengambil cuti dan berlibur berbahaya bagi kesehatan. Berlibur memiliki efek mengurangi load stress dan membuat Anda melepaskan diri sejenak dari pemicu stress di tempat kerja sehingga Anda bisa kembali bekerja dengan semangat. So, tunggu apa lagi? Rencanakan liburan Anda sekarang juga.


Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Seni Etika Kubikel

Setiap karyawan umumnya akan ditempatkan di kubikel khusus untuk menjalankan tanggung jawabnya. Sebelum ada rotasi atau pindah posisi, seorang karyawan akan ´menetap´di Job stationnya cukup lama. Kenyataan ini sering kali membuat karyawan merasa meja kerja dan kubikel mereka adalah ´rumah´ kedua, agar merasa feel like home dan nyaman saat sedang bekerja.

Akan tetapi tahukah Anda kalau etika Anda tentang meja kerja dan kubikel adalah salah satu cara orang menilai Anda? Cerminan kepribadian Anda bisa dilihat dari meja kerja dan cubicle ettiquette Anda. Berikut adalah tips dalam menjalankan etika kubikel.


1. Jaga kerapian dan kebersihan meja dan kubikel Anda.
Seringkali orang beranggapan bahwa kertas-kertas yang menumpuk dan berantakan adalah tanda bahwa karyawan itu adalah pekerja yang rajin. Namun hal ini bisa jadi boomerang buat Anda karena meja yang berantakan juga bisa memberikan kesan salah tentang profesionalitas Anda. Gunakan laci meja untuk menyimpan dokumen-dokumen yang sedang tidak dikerjakan. Letakkan alat-alat tulis Anda di satu wadah agar tidak berceceran. Jangan biarkan remah-remah snack Anda berceceran di meja kerja sehingga bisa mengundang serangga datang. Segera bawa mug kopi Anda jika sudah habis ke sink. Hindari untuk memajang poster atau screen saver yang bisa membuat karyawan lain merasa offended.


2. Kontrol suara.
Jangan jadi sumber pengganggu konsentrasi kerja rekan kerja Anda. Beberapa orang cenderung lebih gampang konsentrasi dalam suasana hening. Rendahkan suara Anda jika Anda berbicara di telepon, apalagi jika telepon yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, dan jangan gunakan speakerphone. Gunakan earphones jika Anda ingin mendengarkan musik.


3. Perhatikan pemakaian parfum, cologne atau pewangi ruangan yang terlalu menyengat.
Aroma yang menyengat dan terlalu berlebihan bisa memecah konsentrasi kerja rekan Anda.


4. Hindari makan di meja Anda.
Dalam ruangan ber AC bau makanan bisa menyebar ke tetangga kubikel Anda. Selain mengganggu, sebuah penelitian menyebutkan bahwa meja kerja lebih kotor daripada dudukan WC karena remah-remah yang tersisa dari makanan Anda dan jatuh di sela-sela keyboard adalah sarang yang nyaman bagi pertumbuhan bacteria.


5. Hormati privacy co worker Anda.
Jangan ´nongkrong´ di kubikel rekan kerja Anda ketika ia sedang bekerja. Bila Anda ada keperluan, sementara ia sedang berbicara di telepon, jangan menunggu sambil berdiri di dekatnya. Biasakan untuk ´mengetuk´ kubikel sebelum memasuki area kerja rekan Anda.


6. Stop ´Nguping´.
Dinding kubikel memang tidak cukup tebal sehingga kadang tanpa disadari Anda bisa mendengar pembicaraan tetangga Anda. Namun hindari mendengarkan pembicaraan karena hal itu sama aja dengan melanggar privacy rekan Anda.


7. Sosialisasi.
Segala etika hidup dalam kubikel tidak berarti Anda harus terus berdiam diri dalam kubikel Anda dan tidak berinteraksi dengan rekan kerja Anda. Ketika waktunya memungkinkan, seperti jam makan siang, tentu tidak ada salahnya untuk saling berkunjung ke kubikel tetangga dan menyapa.


Indonesia Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Selasa, 15 Juni 2010

Boss, Tahan Amarah Anda

Seseorang yang diberi tanggung jawab sebagai pemimpin bukan tanpa sebab. Dalam dunia kerja, mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kekuatan, baik hard skill yang berkaitan dengan Job , maupun karakter yang lebih matang dan kuat. Pemimpin juga umumnya memiliki keterampilan berkomunikasi yang terasah karena keharusan untuk menghadapi dan bernegosiasi dengan berbagai karakter, baik dari timnya sendiri maupun dengan orang di luar lingkungan perusahaan.


Kelebihan yang dimiliki tidak membuat seorang pemimpin selalu sempurna. Walaupun Anda sudah sangat berpengalaman menghadapi banyak orang dengan karakternya masing-masing tentu akan ada saat Anda menghadapi masalah yang membuat ingin berteriak marah dihadapan anggota tim, atau simply walk off meninggalkan mereka. Sebagai manusia, kehilangan kontrol akan emosi adalah hal yang wajar. Namun jika hal ini terjadi di tempat kerja dan dihadapan anggota tim yang Anda pimpin, image Anda sebagai pemimpin akan tercoreng. Siapapun tidak mudah melupakan momen ketika boss mereka berteriak marah di depan orang lain atau meninggalkan rapat tanpa ba bi bu. Pada akhirnya hal ini akan berdampak pada rasa hormat mereka terhadap Anda.


Kehilangan kontrol akan memberikan kesan bahwa Anda tidak bisa didekati, keras, tidak bisa bernegosiasi. Hal yang wajar jika akhirnya mereka menjauhi Anda. Tentu saja ini tidak menguntungkan karena bisa menghilangkan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan anggota tim lainnya. Dampak bagi diri Anda sendiri adalah perasaan bersalah atau tidak enak setelah Anda meluapkan kemarahan tersebut.


Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan saat merasa darah Anda mulai mendidih dan bersiap untuk menyemburkan amarah kepada anggota tim Anda.

  1. Latih keahlian menganalisa
    Biasakan melatih pikiran untuk menganalisa segala hal dengan logika sebelum memutuskan sesuatu. Dengan demikian Anda akan terbiasa untuk menganalisa masalah, sebab dan akibat sebelum melakukan apapun, termasuk meluapkan amarah pada anggota tim Anda.

  2. Anger solves nothing
    Tanamkan pemikiran bahwa amarah tidak menyelesaikan masalah apapun, bahkan sangat mungkin bisa membuatnya makin parah. Emosi tak terkontrol bisa membuat Anda melakukan serangan verbal kepada orang yang bersangkutan, bahkan bukan tidak mungkin bisa mengarah ke serangan fisik. Bayangkan kerugian dan kerusakan yang harus dipulihkan saat Anda membiarkan amarah meledak.

  3. Ingatlah bahwa tidak ada orang yang sengaja ingin membuat Anda marah.
    Terlebih lagi pemimpinnya. Kesalahan yang mereka lakukan sangat mungkin disebabkan oleh miskomunikasi atau salah pengertian. Jadikan hal ini sebagai PR yang harus Anda perbaiki sebagai pemimpin. Mungkinkah gaya komunikasi Anda juga yang jadi penyebabnya?

  4. Saat hal ini terjadi, tarik nafas dalam-dalam.
    Ambillah beberapa saat untuk menenangkan diri lalu mulailah berpikir akibat yang muncul jika Anda marah. Ingatlah untuk tidak menjadikan kemarahan sebagai reaksi pertama Anda. Kumpulkan fakta-fakta, minta penjelasan dari yang bersangkutan, analisa lagi penyebab hal tersebut. Sibukkan pikiran Anda sebelum menunjukkan emosi Anda.

  5. Menjauh.
    Jika Anda masih merasakan amarah, bahkan semakin intens, cobalah untuk menjauh dari orang si penyulut amarah atau daerah tempat terjadinya konflik tersebut. Keluar dari area “panas” bisa membantu Anda untuk lebih tenang dan berpikir lebih jernih. Solusipun bisa didapatkan dengan lebih mudah saat emosi Anda mereda dan objektifas pun mulai muncul. Tentu saja Anda harus menyampaikan alasan Anda menjauh, misalnya: “Saya harus pergi untuk memikirkan sesuatu”. Jangan meninggalkan arena konflik tanpa kata-kata karena bisa menimbulkan persepsi yang negatif di mata “lawan” Anda.

  6. Sadarlah bahwa setiap orang pasti mengalami argumentasi atau perselisihan dalam hidup mereka.
    Hampir tidak mungkin rasanya menjalani hidup tanpa perbedaan pendapat atau kesalahpahaman. Yang Anda bisa lakukan hanyalah meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik dengan mengasah kemampuan komunikasi dan mengatasi krisis dengan lebih baik lagi.
  7. Remember!
    Apa yang Anda ucapkan menunjukkan kualitas Anda. Jangan sampai kemarahan sesaat Anda menghancurkan reputasi yang telah Anda bangun dengan susah payah.


Indonesia Job , Jobs , Career

Bookmark and Share

Kamis, 10 Juni 2010

Five Rules for Office Romances

How to Keep an Office Romance from Derailing Your Career

By Dawn Rosenberg McKay, About.com


Office romances have been around for as long as offices (or other workplaces). While an office romance can be great for your social life, it can be like a train wreck as far as your career is concerned. Although you know you should avoid an office romance sometimes your judgement goes awry. If you find yourself in a relationship with a co-worker, a subordinate or your boss, these rules may help minimize the impact on your career.


1. Be Discreet: With social networking sites and tv reality shows encouraging us to let the world into our most private moments, discretion may be a dying art. When it comes to office romance, it is much better to keep your relationship private than it is to flaunt it. This doesn't mean you should lie about it. Just don't put it out there for everyone to watch unfold.

2. Set Rules and Have an Exit Plan: Make sure you and your partner are on the same page. Decide how you will proceed with your relationship as far as the office is concerned. Also figure out how you will handle it if your relationship doesn't succeed.

3. Be Honest With Each Other: Honesty is, of course, important in any relationship, but dishonesty can add to the bitterness that often accompanies the end of a romance. You don't want to end on bad terms, particularly because you will have to see each other regularly.

4. Don't Let Your Feelings Get in the Way of Your Job: This may take quite a bit of effort, but if your feelings for your partner influence how you do your job, you may find yourself looking for a new one (job and partner).

5. Stay Within the Law: Sexual harassment suits are unpleasant for everyone involved. Be aware of what constitutes sexual harassment and avoid doing anything that can invite those accusations.


Job vacancy

Five Things Not to Do When You Leave Your Job

By Dawn Rosenberg McKay

Leaving a job is often upsetting, whether you were fired or finally decided to quit. You may have trouble remembering to do the right thing. Here are five things you should avoid doing.

1. Don’t tell off your boss and co-workers, even if you think they deserve it.
When you leave your job, your emotions may be running high, especially if you are leaving on bad terms. You may want to tell your boss or co-workers what you really think of them. Don’t do it, even if they truly deserve it. You never know who you will meet down the road and who you may have to work with one day.

2. Don’t damage company property or steal something.
You may feel you were mistreated by your employer and you may be really angry. However, vandalism and theft are criminal offenses. Not only will your professional repution be damaged by your actions, you could end up in jail.

3. Don’t forget to ask for a reference.
This may sound like an odd thing to consider if you are leaving your job on unfavorable terms. However, you will have to include this job on your resume, so you should try to make sure you get either a good or, at least, a neutral reference. If you’ve been fired because of some horrible offense, this may be a moot point. However if your parting is due to something less serious, you may be able to ask your boss for a reference, in spite of the fact that “things didn’t work out as expected.”

4. Don’t badmouth your employer or any of your co-workers to your replacement.
First of all, it will only look like sour grapes, so there’s nothing to gain here. Second, your successor will figure things out for himself or herself. Third, it may have been bad chemistry, and your co-worker will have a totally different experience than you did.

5. Don’t badmouth your employer to a prospective employer when you go on a job interview.
The only person who this will make look bad is you. Your prospective boss will wonder what caused your relationship with your prior employer to sour and will suspect that you could have been at fault.


Indonesia Job , Jobs Info , Job vacancy

Bookmark and Share

Rabu, 09 Juni 2010

Lebih Mengenal Head Hunter

Pernahkah Anda mendengar istilah head hunter? Jika belum, head hunter adalah istilah yang digun

akan untuk menyebut para konsultan yang jasanya dipercaya oleh para perusahaan untuk mencari atau hunt para top professional atau senior executive dengan keahlian spesifik dan khusus, yang tidak bisa atau jarang ditemukan dengan iklan lowongan kerja biasa.

Dikalangan professional atau high level executive, ada kebanggaan tersendiri jika mereka sudah dihubungi oleh head hunter. Hal tersebut menandakan bahwa reputasi, kredibilitas dan prestasi kerja mereka dikenali dan dibutuhkan. Karena itulah telepon dari head hunter sering kali diidentikkan dengan kabar gembira bagi para eksekutif karena besar kemungkinan mereka akan ditawari pekerjaan yang mungkin saja lebih baik dan memberikan kompensasi lebih.


Bagaimana cara head hunter mencari kandidat ?


Setelah mendapatkan kualifikasi spesifik mengenai posisi yang dibutuhkan dari HRD perusahaan, head hunter akan mulai 'berburu' kandidat yang sesuai. Memang umumnya sebuah perusahaan executive search sudah membangun network yang cukup kuat sebelum mereka mulai menerima tugas dari klien, akan tetapi masih ada kemungkinan tidak memiliki database kandidat yang cocok. Beragam cara bisa dilakukan seorang konsultan untuk riset kandidat. Kreatifitas adalah kuncinya. Memasang iklan di media cetak terkemuka atau di website yang sudah ternama bisa jadi salah satu pilihan. Sama halnya dengan referensi yang seringkali jadi sumber informasi kandidat yang efektif. Perusahaan kompetitor bahkan bisa jadi sumber informasi database yang besar bagi para head hunter. Bukan tidak mungkin kandidat yang awalnya bekerja di perusahaan kompetitor akhirnya pindah ke perusahaan saingannya karena tawaran yang lebih menggiurkan. Inilah yang membuat head hunter sering dujuluki 'pembajak'.


Bagaimana cara kerja head hunter ?

Tanggung jawab head hunter tidak berhenti walaupun sudah mendapatkan kandidat yang sesuai dengan kualifikasi yang disyaratkan perusahaan. Interview sebagai seleksi awal masih harus dilakukan untuk memastikan bahwa kandidat memiliki kepribadian dan karakter yang sesuai dengan posisi tersebut. Setelah head hunter memastikan bahwa kandidat mereka qualified, barulah nama dan CV kandidat tersebut dikirimkan ke klien. Selanjutnya head hunter akan mengatur jadwal interview potential candidate dengan klien dan menindaklanjuti hasil wawancara tersebut.


Apa yang dibutuhkan untuk menjadi head hunter yang ideal ?

Tidak ada gelar akademis khusus yang harus dimiliki seseorang untuk terjun ke profesi ini. Yang pasti, seorang konsultan executive search harus memiliki communication skills yang baik, memiliki network atau jejaring yang luas, mampu menyelami karakter, menggali kompetensi dan keahlian seorang kandidat untuk melakukan penyeleksian awal. Konsultan juga harus memiliki kemampuan riset yang baik. Seringkali klien berasal dari bidang yang tidak terlalu popular sehingga ia dituntut untuk bisa mendalami suatu bidang tertentu melalui riset. Riset bisa dilakukan melalui Internet, referensi, bahkan terjun langsung ke 'lapangan'.


Tantangan di bidang ini

Seringkali kandidat yang di "approach" oleh head hunter tidak pernah mendengar istilah head hunter atau executive search. Beberapa dari mereka bahkan curiga saat dihubungi. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan head hunter dan kesempatan baik yang dibawa oleh para konsultan kepada para professional. Sama halnya dengan kepercayaan dari klien. Tidak semua HRD perusahaan familiar dengan jasa head hunter dan seringkali tidak mengerti mengapa mereka harus menggunakan jasa mereka. "Saat berusaha mendekati kandidat yang potensial, terutama mereka yang sudah berada di level top executive, seperti CEO, CFO, seringkali kami mengalami kesulitan untuk 'menembus' birokrasi yang panjang sebelum akhirnya bisa bicara langsung" demikian ujar Helny Widiastuti, Manager Prestige Consulting, perusahaan yang juga bergerak di bidang ini.


Bagaimana prospek profesi ini dimasa yang akan datang ?

Dengan proses rekrutmen untuk senior atau top executive yang bisa berlangsung panjang dan seringkali rumit, kehadiran head hunter atau executive search sangat membantu. Terutama perusahaan-perusahaan besar yang operasionalnya bergerak dengan dinamis, head hunter dengan kekuatan data base, jejaring dan research skill membantu mendapatkan kandidat dengan ketepatan hingga 90%, dalam waktu yang cukup singkat. "Di masa yang akan datang akan makin banyak perusahaan yang menyadari bahwa untuk mendapatkan kandidat top executive yang berkualitas mereka tidak harus menjalani seluruh proses rekrutmen yang seringkali panjang. Head hunter bisa membantu menghemat waktu, tenaga dan effort dengan hasil yang baik" lanjut Helny lebih jauh lagi.


Job Vacancy , Career , Indonesia Job