Tampilkan postingan dengan label ramen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

Sushi Rice

Sushi is made with white, short-grained, Japanese rice mixed with a dressing made of rice vinegar, sugar, salt, and occasionally kombu and sake. It has to be cooled to room temperature before being used for a filling in a sushi or else it will get too sticky while being seasoned. Traditionally, the mixing is done with a hangiri, which is a round, flat-bottom wooden tub or barrel, and a wooden paddle (shamoji).

Sushi rice (sushi-meshi or su-meshi 酢飯) is prepared with short-grain Japanese rice, which has a consistency that differs from long-grain strains such as those from India, Thailand, and Vietnam. The essential quality is its stickiness or glutinousness. Rice that is too sticky has a mushy texture; if not sticky enough, it feels dry. Freshly harvested rice (shinmai) typically contains too much water, and requires extra time to drain the rice cooker after washing. In some fusion cuisine restaurants, short grain brown rice and wild rice are also used.

There are regional variations in sushi rice and, of course, individual chefs have their individual methods. Most of the variations are in the rice vinegar dressing: the Kanto region (or East Japan) version of the dressing commonly uses more salt; in Kansai region (or West Japan), the dressing has more sugar.

Source: www.wikipedia.com

See also: ramen, sushi tei

Minggu, 22 Agustus 2010

Leuit: Sedia Makan Sebelum Kelaparan

By: Ratih

Soal kebiasaan makan membutuhkan penelitian yang serius sebab hal ini melibatkan berbagai macam aspek budaya masyarakat yang bersangkutan. Soal makan bukan sekedar makan. Ada nilai-nilai yang dianut masyarakat tertentu sehingga makan bersama merupakan sesuatu yang bernilai sosial. Bukan sekedar demi kepentingan makan hari ini saja, kebiasaan menyimpan persediaan makan telah ada sejak ribuan tahun lalu. Lumbung padi merupakan salah satu contoh cara manusia simpan persediaan makan untuk beberapa lama. Pada masyarakat sunda di desa-desa, lumbung padi atau leuit memiliki beberapa kategori khusus. Ada 6 jenis leuit, yaitu:

1.Ratna laten adalah lumbung padi terbesar untuk menyimpan padi pupuhu sekaligus tempat untuk melaksanakan ritual ;
2.Leuit rumbia untuk menaruh padi huma (biji padi yang ditanam di ladang);
3.Leuit biang untuk menaruh padi sawah(benih nandur/ tanam sambil mundur);
4.3 buah leuit pangiring sebagai lumbung padi cadangan bila leuit yang lain penuh.

Tentunya perbedaan fungsi setiap leuit mencirikan pula stratifikasi sosial atau tingkatan yang ada dalam masyarakat tersebut. Rakyat biasa tidak bisa seenaknya mengambil padi persediaan milik pupuhu. Ratna laten idealnya memang bukan miliknya pribadi, meski pupuhu mendapat keistimewaan sebagai pemimpin. Seandainya ratna laten hanya dimiliki pupuhu, tentu tidak akan dijadikan sebagai tempat ritual yang bisa dimasuki orang lain dalam rangka perayaan setelah panen. Sayangnya, nilai-nilai sosial dalam masyarakat sunda sekalipun di desa semakin luntur. Kepemilikan bersama bukan lagi menjadi tujuan utama produksi makanan di desa. Semua tergantung usaha sendiri, bergerak masing-masing dalam memproduksi dan mengkonsumsi makanan.

Maka dapatkah kebiasaan makan berubah dengan mudah seiring dengan maraknya jenis makanan baru dari kota? Tentu saja, hal ini tergantung dari kelompok sosial yang mana seorang anak desa berasal. Bila ia berasal dari kelurga kaya raya yang memonopoli kepemilikan sumber pangan di desa, maka bisa jadi akses untuk mengenal makanan fast food demikian mudahnya. Namun, bagi masyarakat kelas bawah yang makan sehari-hari pun sulit, fast food ibarat makanan dari surga yang harga dan rasanya hanya diketahui dari mulut orang lain. Bayangkan saja, orang-orang kecil yang tidak memiliki pekerjaan hanya mengandalkan kemampuan mereka mencari makanan dari sungai atau kebun. Ikan yang bisa ditangkap atau umbi-umbian yang bisa dicerabut akarnya lalu diolah untuk makan sehari-hari. Untunglah kepedulian para pemilik restoran besar pada masyarakat yang kekurangan seperti itu sudah mulai terlihat. Misalnya saja, kegiatan-kegiatan sosial yang mereka programkan pada waktu tertentu. Program ini biasanya melibatkan selebritis yang turun desa. Acara rakyat yang merakyat justru semakin membesarkan nama restoran yang sebelumnya tak pernah tersentuh masyarakat desa. Kita nantikan gebrakan-gebrakan mengejutkan lainnya dari restoran sebagai leuit orang kota.

Daftar Pustaka:

Counihan, Carole and Penny Van Esterik (eds). 2008. Food and Culture: A Reader. New York: Routledge

Lihat juga: minuman, ice cream, ramen

Rabu, 18 Agustus 2010

Museum Ramen

The "Shin-Yokohama Raumen Museum" is a unique museum about ramen. In a gallery on the first floor, the museum presents the history of ramen in Japan, including the big success of instant ramen. It displays the variety of noodles, soups, toppings and bowls used across Japan, and shows how the noodles are made. On the two basement floors, visitors can explore a 1:1 replica of some streets and houses of Shitamachi, the old town of Tokyo, circa 1958, when the popularity of ramen was rapidly increasing. Nine ramen restaurants can be found there, each featuring a ramen dish from a different region of Japan. For visitors who wish to try multiple ramen dishes, the restaurants offer "mini ramen" small portions. Tickets for the meals are purchased at vending machines in front of each restaurant before entering.

Source: www.wikipedia.com

See also: sushi, sushi tei

Selasa, 20 Juli 2010

Ramen Soup

Ramen soup is generally made from stock based on chicken or pork, combined with a variety of ingredients such as kombu (kelp), katsuobushi (skipjack tuna flakes), niboshi (dried baby sardines), beef bones, shiitake, and onions, and then flavored with salt, miso, or soy sauce. Other styles that have emerged later on include curry ramen and other flavors.

The resulting combination is generally divided into four categories (although new and original variations often make this categorisation less clear-cut):

  • Shio ("salt") ramen is probably the oldest of the four and, like the Chinese maotang (毛湯). It is the lightest ramen, a pale, clear, yellowish broth made with plenty of salt and any combination of chicken, vegetables, fish, and seaweed. Occasionally pork bones are also used, but they are not boiled as long as they are for tonkotsu ramen, so the soup remains light and clear. Shio is generally the healthiest kind of ramen; fat content tends to be low, and fresh vegetables like cabbage, leeks, onions, and bamboo shoots typically adorn the simple soup and curly noodles. Chāshū is sometimes swapped out for lean chicken meatballs, and pickled plums and kamaboko are popular toppings as well. Noodle texture and thickness varies among shio ramen, but they are usually straight rather than curly.

  • Tonkotsu ("pork bone") ramen usually has a cloudy white colored broth. It is similar to the Chinese baitang (白湯) and has a thick broth made from boiling pork bones, fat, and collagen over high heat for many hours, which suffuses the broth with a hearty pork flavor and a creamy consistency that rivals milk or melted butter or gravy (depending on the shop). Most shops, but not all, blend this pork broth with a small amount of chicken and vegetable stock and/or soy sauce. Currently the latest trend in tonkotsu toppings is māyu (マー油/麻油), a blackish, aromatic oil made from either charred crushed garlic or Sesame seeds. The noodles are thin and straight. It is a specialty of Kyūshū and is often served with beni shoga (pickled ginger).

  • Shōyu ramen typically has a brown and clear color broth, based on a chicken and vegetable (or sometimes fish or beef) stock with plenty of soy sauce added resulting in a soup that’s tangy, salty, and savory yet still fairly light on the palate. Shōyu ramen usually has curly noodles rather than straight ones, but this is not always the case. It is often adorned with marinated bamboo shoots or menma (麺媽), green onions, kamaboko (fish cakes), nori (seaweed), boiled eggs, bean sprouts and/or black pepper; occasionally the soup will also contain chili oil or Chinese spices, and some shops serve sliced beef instead of the usual chāshū.

  • Miso ramen is a relative newcomer, having reached national prominence around 1965. This uniquely Japanese ramen, which was developed in Hokkaidō, features a broth that combines copious amounts of miso and is blended with oily chicken or fish broth – and sometimes with tonkotsu or lard – to create a thick, nutty, slightly sweet and very hearty soup. Miso ramen broth tends to have a robust, tangy flavor, so it stands up to a variety flavorful toppings: spicy bean paste or tōbanjan (豆瓣醤), butter and corn, leeks, onions, bean sprouts, ground pork, cabbage, sesame seeds, white pepper, and chopped garlic are common. The noodles are typically thick, curly, and slightly chewy.

Source: www.wikipedia.com


See also: wine

Rabu, 16 Juni 2010

Sukiyaki

Sukiyaki (すき焼き, スキヤキ ?) adalah irisan tipis daging sapi, sayur-sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara direbus. Sukiyaki dimakan dengan mencelup irisan daging ke dalam kocokan telur ayam.

Sayur-sayuran untuk Sukiyaki misalnya bawang bombay, daun bawang, sawi putih, shungiku (nama daun dari pohon keluarga seruni), jamur shiitake, dan jamur enoki. Sebagai pelengkap ditambahkan ito konnyaku atau shirataki yang berbentuk seperti soun berwarna bening atau sedikit abu-abu.

Sukiyaki memiliki dua versi, Sukiyaki versi daerah Kansai dan Sukiyaki versi daerah Kanto yang berbeda cara penyajian, jenis bumbu dan rasa.

Menurut Sukiyaki versi Kansai, Sukiyaki hanya dimasak dengan bumbu kecap asin dan gula pasir, sedangkan Sukiyaki versi Kanto dimasak menggunakan saus Warishita yang merupakan campuran dashi, kecap asin, gula pasir, dan mirin yang dimasak terlebih dulu.

Menurut cara Kansai, potongan lemak sapi dicairkan di dalam panci sebelum memasukkan irisan daging sapi. Bumbu berupa gula pasir dan kecap asin dituangkan sekaligus dalam jumlah banyak di atas daging yang sudah matang lalu diaduk-aduk dengan sayur-sayuran hingga matang. Menurut cara Kanto, bumbu warishita dididihkan dulu di dalam panci sebelum semua bahan dimasukkan.
sumber: wikipedia
lihat juga: restaurant, restoran, cafe

Selasa, 15 Juni 2010

Singapore food @chatter box

sebelumnya:japanese food, chinese food, sushi, ramen
Promo bertajuk “Sing…Sing…Sing …Singapore food@Chatter Box ” belum lama ini digelar di Chatter Box Grand Indonesia memperkenalkan menu-menu andalan Chatter Box dengan tema makanan khas Singapore yang menggoda selera. Beberapa menu unggulan khas Singapore tersebut seperti Roast Duck with hainan Rice, Walking Hainan Chicken Rice , Fried Hokkian Mie dan Rojak Singapore. Semua hidangan bercitarasa otentik tersebut diracik secara khusus oleh chef asal Singapura, George Lee yang sekaligus merupakan Executive Chef Chatter Box.

Untuk makanan pembangkit selera Anda bisa mencoba Chatter Box Prawn Laksa, laksa special yang disajikan dengan lontong dan mie hongkong dari Chatter Box ini punya rasa gurih yang kental dan lezat. Laksa Chatter Box memiliki perbedaan dengan laksa yang yang pernah kita temukan selama ini. Selain menggunakan susu segar sebagai campuran kuahnya, laksa ini dan semua makanan di Chatter Box dijamin bebas MSG.

Buat pecinta Rojak bisa mencicipi rujak khas Singapore yang dikenal dengan sebutan Rojak Singapore. Meskipun tampilannya mirip dengan rujak buah tetapi racikan bumbunya sangat berbeda dengan rasanya yang pedas, manis dan segar.

Chatter Box menggelar promo “Sing…Sing…Sing…Singapore food” ini di 8 outlet Chatter Box di Jakarta hingga 15 Juli 2010. Selama masa promo pengunjung bisa menikmati ½ harga untuk setiap pembelian menu ke-2 khusus bagi hidangan Singapura.

Senin, 14 Juni 2010

Nonton Bareng Piala Dunia 2010

Piala dunia sudah mulai masing-masing orang punya jagoan dan biasanya membela jagoannya habis-habisan.
Nobar atau nonton bareng lebih seru dibanding nonton sendirian di rumah dimana kita bisa teriak-teriak mendukung kesebelasan jagoan kita berharap cemas ketika bola mulai mendekati gawang lawan bahkan ada yang tutup mata saat bola menyambangi gawang team kesayangannya.
Tak usah bingung mau nobar dimana sekarang sudah banyak tempat-tempat asik buat nobar karena banyak restaurant, restoran, cafe, menyediakan acara nonton bareng piala dunia. Dimana kita bisa juga sambil menyantap makanan dan minuman kesukaan sambil membela team kesayangan.
Karena seperti sepak bola makanan dan minuman juga masing-masing punya selera, ada yang suka japanese food, seperti sushi, ramen. ada pula yang suka chinese food seperti dim sum. Ada pula yang yang suka makanan khas western seperti pizza, pasta, steak, ice cream, cake, wine. Ada pula yang suka seafood dan tak ketinggalan makanan khas dari Indonesia seperti Nasi goreng, soto, sate, dll.
Jadi meriahkan pesta piala dunia dengan nonton bareng sambil menikmati makanan kesukaanmu itu lebih mengasikkan . Apalagi kalau pengalaman itu bisa di abadikan dan di ceritakan kembali di openrice kali aja dapet voucher makan gratis lumayan kan :)

Kamis, 10 Juni 2010

makan dululahh

Makanan… hmmm siapa yang gag kenal dan gag butuh dengan yang satu ini. Kebutuhan hidup. Ada yang bilang makan untuk hidup, ada juga yang bilang hidup untuk makan.

Makanan dan minuman bisa kita dapatkan dengan memasak atau mengolah atau jika malas dan tidak sempat mengolah kita bisa membeli di tempat2 penjaja makanan di restaurant, restoran, maupun café .

Di Indonesia banyak sekali kuliner2 yang terkenal di dunia seperti nasi goreng, sate, soto dll. Dan banyak juga Japanese food seperti sushi, ramen, dan Chinese food seperti dim sum maupun makanan berkelas internasional seperti seafood, pasta, steak, cake dan pizza maupun minuman seperti wine, dan ice cream.

Tapi apapun makanannya yang penting perut terisi dan kenyang hehehehe agar bias terus melakukan aktivitas dan terus hidup :)

Senin, 07 Juni 2010

makan makan dorayaki

Dorayaki adalah kue yang berasal dari Jepang. Dorayaki termasuk ke dalam golongan kue tradisional Jepang (wagashi) yang bentuknya bundar sedikit tembam, terdiri dari dua lembar kue yang direkatkan dengan selai kacang merah. Dorayaki memiliki tekstur yang lembut dan mirip dengan kue jepang yang disebut Kastela karena adonan yang mengandung madu.Makanan doraemon nie, hehehe
liat juga : nasi goreng, ice cream, ramen

sumber: kotakgame