Tampilkan postingan dengan label dim sum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dim sum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

The Dim Sum Guide

By: Grant Y

If you’ve ever ventured into an authentic Chinese restaurant or have passed by one on the weekend, you’ve probably seen or heard of the phrase “dim sum”. For many people, the strange phrase alone is enough to cause eyebrows to arch, heads to shake and stomachs to become uneasy. While it’s completely natural to err on the side of caution when it comes to new and exotic foods, the good news is that dim sum is probably some of the best-tasting Chinese food that you’ll encounter in your adventures.

So what exactly is dim sum, you ask? It’s been described as the Chinese version of tapas (small plates of Spanish dishes), or small delicacies or snack food. Usually offered during weekend brunch, dim sum is a collection of small Chinese dishes that are usually steamed, baked or fried. Dim sum often features meat dishes, pastries and desserts that you won’t normally see on a restaurant menu otherwise.

Whether you are completely new to dim sum or are an experienced foodie looking to expand your taste buds, our guide will walk you through the perils, pitfalls and joys of finding the best dim sum around. So sit back, relax and let’s begin!

Source: www.chefseattle.com

See also: dim sum, loewy, table 8

Minggu, 22 Agustus 2010

Rebus atau Panggang? Pilih Olah Makanan Terkait Gengsi dan Tabu

By: Ratih

Pilihan soal makanan yang direbus atau dipanggang sebenarnya sepele bagi kita. Kita pilih soto dengan potongan daging kecil yang direbus karena kita ingin makan siang dengan menu ini. Lalu kita pilih steak untuk makan malam karena kita terbayang rasa lezat daging has dalam nan empuk yang disajikan dengan saus lada hitam, misalnya. Chinese food atau western food tak masalah. Berbeda dengan masyarakat di ujung sana, di negeri antah berantah pada masa lalu atau masa kini. Pilihan soal makanan yang direbus atau dipanggang menjadi penting karena berkaitan dengan konsep hidup mereka. Soal gengsi dan tabu.

Linguistik mengenal konsep konsonan dan vokal. Konsep ini dikenal pula dalam dunia kuliner. Konsonan bisa diartikan sebagai sesuatu yang tertutup sedangkan vokal berarti terbuka. Segala hal yang berhubungan dengan tata cara masak yang sekiranya tabu, tidak akan dilakukan. Misalnya saja, pilihan antara membakar dan merebus pada suku asli di New Caledonia berkaitan dengan hubungan mereka antara alam dan teknologi. Penggunaan panci dan alat panggang merupakan sebuah gengsi tersendiri. Sebuah bukti peradaban. Teks dari Aristoteles yang ditemukan oleh Salomon Reinach mengindikasikan bahwa orang Yunani dahulu kala selalu memanggang makanan. Suku Poconachi di Meksiko panggang makanan hanya setengah matang karena setengah matang berarti berada di tengah-tengah dunia.
Makanan yang direbus merupakan “endo-cuisine” disediakan untuk kepentingan domestik, kelompok kecil, sedangkan makanan yang dipanggang ialah “exo-cuisine” yang disajikan untuk para tamu. Di Perancis, ayam rebus untuk keluarga sedangkan daging panggang untuk perjamuan tamu.
Pada Suku Guayaki di Paraguay, mereka panggang semua makanan, kecuali saat sebuah ritus kelahiran anak, daging harus direbus. Sedangkan suku Caingang di Brazil melarang daging rebus untuk para janda dan duda atau siapapun yang sudah membunuh musuhnya (Strauss. 1997).

Waduh, serem juga ya Suku Caingang..melibatkan soal bunuh membunuh segala dengan makanan. Pastinya kita disini tidak berhubungan dengan gengsi atau tabu dalam memilih makanan, kecuali tempat makan mana yang kamu pilih. Soal jenis makanan tergantung selera. Beruntunglah kita tidak memiliki aturan baku seperti di masyarakat lainnya yang telah disebutkan tadi. Mau makan apapun tak terkait dengan norma. Jadi nikmati makanan yang jadi pilihan kamu, tentunya dengan pertimbangan rasa, harga dan suasana restoran yang akan didatangi.

Daftar Pustaka:

Levi- Strauss, Claude. 1997. “The Culinary Triangle” dalam Food and Culture. Carole Counihan and Penny van Esterik (Editor). Oxon: Routledge.


See also: dim sum, soto

Kamis, 05 Agustus 2010

Tofu

Tofu skin also known as dried beancurd, yuba or bean skim, is a Chinese and Japanese food product made from soybeans. During the boiling of soy milk, in an open shallow pan, a film or skin composed primarily of a soy protein–lipid complex forms on the liquid surface. The films are collected and dried into yellowish sheets known as tofu skin or soy milk skin. Because it is derived directly from soy milk, the name tofu skin is technically inaccurate.



Preparation

Tofu skin may be purchased in fresh or dried form. In the latter case, the tofu skin is rehydrated in water before use. It is often used to wrap dim sum.

Because of its slightly rubbery texture, tofu skin is also manufactured in bunched, folded and wrapped forms that are used as meat substitutes in vegetarian cuisine. Tofu skins can be wrapped and then folded against itself to make doù baō (Chinese: 豆包, literally "tofu package"). These are often fried to give it a firmer skin before being cooked further.

Source: www.wikipedia.com

See also: makanan, minuman


Senin, 26 Juli 2010

Macam-macam makanan khas gresik

Pudak adalah makanan/kue khas kota Gresik, Jawa Timur, Indonesia. Makanan ini terbuat dari bahan tepung beras, gula pasir/gula jawa dan santan kelapa yang dimasukan kemasan terbuat dari bahan yang disebut "ope" yaitu [ [pelepah daun pinang ]]. Pudak juga ada yang berbahan sagu dan disebut pudak sagu. Pada perkembangannya, ragam pudak tidak terbatas 3 rasa macam saja seperti sebelumnya : pudak putih (gula pasir), pudak merah (gula jawa) dan pudak sagu. Pada masa kini, oleh kreatifitas pembuat kue pudak untuk merebut pasar, maka ragam dan rasa pudakpun bertambah, diantaranya pudak pandan yang berwarna hijau dan harum karena campuran sari daun pandan. namun terkadang para pembuat pudak memilih menggunakan daun suji sebagai perwarna pengganti, mengingat warnanya yang lebih kuat hijaunya, sensasinya juga tak kalah dengan daun pandan. Disamping rasa yang khas, bentuk kemasan pudak tidak ada yang menyamai di antara jajanan manapun. Dari bahan yang sudah mulai langka, pembuatannya pun tidak sederhana. Pangkal pelepah daun pinang harus disamak lebih dahulu untuk memisahkan kulit luar dan kulit dalam. kulit bagian dalam inilah yang dimanfaatkan. Setelah dibersihkan dan dipotong-potong sesuai ukuran, kemudian dilipat dan dijahit dengan alur seperti huruf L tanpa sudut, sehingga sisi dan dasarnya tertutup dan membentuk ruang seperti gelas. Setelah adonan dituangkan, ujung kemasan yang terbuka dikuncupkan dan diikat. Baru dikukus

Kue pudak merupakan jajanan yang kaya kalori dan mengenyangkan. Disamping itu kue ini bisa bertahan selama 3 hari, bila diangin-anginkan. Konon kue ini dibuat sesuai kebutuhan masyarakat Gresik yang saat itu yang bermata pencaharian sebagai pedagang, yang cenderung bepergian jauh.

Apabila anda yang ingin mencicipi citarasanya, anda bisa mendapatkannya saat berkunjung ke kota Gresik. Di komplek wisata religius seperti Makam Sunan Giri dan Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim, misalnya. Atau bila anda sempat bisa pula didapatkan di Pasar Kota Gresik, atau di toko-toko kue khas Gresik di sepanjang Jln. Sindujoyo. Disana akan lebih banyak jajanan khas Gresik, yang tak akan ditemukan di kota-kota lain.

Tapi seandainya anda tidak punya waktu karena tengah dalam perjalanan melewati kota Gresik,anda bisa berhenti sejenak di Jln. Veteran, di seberang Gedung Wisma Ahamad Yani]]berderet toko-toko kue yang menyediakan pudak yang tergantung dalam rangkaian-rangkaian yang masing-masing berisi lima biji kue. Tapi jangan lupa, mintalah yang paling baru/segar.

Namun bila anda memang tak pernah punya kesempatan, pesankan saja oleh-oleh dari teman anda yang akan datang dari kota Gresik. Bagus Cahyono mengucapkan Selamat berbelanja !

Kue khas Gresik lainnya : - Jubung, jenang ketan berwarna hitam dalam tabung Ope,dengan taburan biji wijen. - Ayas, jenang ketan warna-warni dalam bentuk potongan-potongan kecil, juga bertabur wijen. - Nasi Krawu, nasi punel dengan lauk olahan daging yang dicabik-cabik serta bumbu kelapa dan sambal yang sangat khas. - Dan banyak lagi yang lainya...,
sumber: wikipedia

Nikmati Juga:
steak
dim sum
seafood

Jumat, 23 Juli 2010

Cardamon buffet

KAYA RASA: Seorang juru masak Restoran Cardamon mengolah menu makanan buat pengunjung. Tempat makan yang berlokasi di Mal Grand Indonesia, Jakarta, ini mengunggulkan menumenu Asia yang dikenal kaya rempah.

INGIN menikmati ragam menu Asia dengan cara buffet? Di Cardamon keinginan Anda bisa terpenuhi karena tidak banyak restoran yang menerapkan konsep seperti ini. Sudah sejak lama diketahui masakan dari Asia menjadi favorit bagi para pencinta kuliner di seluruh dunia.

Hal itu tidak mengherankan, dibanding Eropa ataupun Amerika,makanan dari negara-negara tropis tergolong kaya rempah dan bumbu yang penting bagi peningkatan cita rasa. Masakan Asia juga selalu identik dengan pemakaian sambal dan saus. Dengan begitu, variasi menu yang disajikan pun menjadi sangat beragam. Karena itu, para chef amat menikmati proses mengolah masakan dari Asia akibat begitu banyak cara meracik menu yang bisa dilakukan. Menurut sejarah, negara-negara Asia selatan dan tenggara seperti Indonesia,Malaysia,Vietnam,Sri Langka, serta Thailand banyak dipengaruhi oleh hidangan dari China. Itu dikarenakan bahan-bahan yang digunakan dalam masakan China tak sulit didapat di negara Asia tropis.

Mengingat kekhasannya yang sudah tersohor di mancanegara, Restoran Cardamon akhirnya menerapkan konsep sajian masakan Asia modern yang tersaji secara buffet. Restoran yang terletak di lantai 5 West Mall, Grand Indonesia, Jakarta,ini menyediakan beragam menu yang siap dinikmati pengunjung. ”Masakan Asia kami pilih karena memang beberapa tahun belakangan tren masakan ini sedang banyak diminati masyarakat.Apalagi variasi menu ini beragam dan yang pasti sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia,” kata PR & Marketing Restoran Cardamon Emir Gumilar Sumantri.

Nama Cardamon berasal dari tanaman dengan nama latin amomum cardamomum atau di Indonesia disebut kapulaga yang selama ini dikenal sebagai rempah untuk masakan dan lebih banyak digunakan untuk campuran jamu.Kapulaga biasanya digunakan untuk menambah rasa sedap dan wangi dalam minuman dan makanan.Selain itu, kapulaga juga dapat menghilangkan bau amis yang berasal dari ikan.Melalui manfaat yang terkandung dalam kapulaga, Cardamon hadir di tengah-tengah penikmat kuliner di Indonesia dengan cara unik dan berbeda dibandingkan tempat makan lain. Emir mengatakan,dengan konsep fine dining,Cardamon yang buka sejak 10 Juni 2008 menyajikan hidangan pilihan yang mengutamakan kualitas dan variasi menu terbaik dari beberapa negara di Asia.

Di antaranya ragam fusion sushi,dim sum,ramen,beef bowl,dan tom yum.Tidak ketinggalan masakan tradisional seperti mi aceh, tumis brokoli, chicken rica-rica, dan nasi goreng. ”Kami juga menyediakan masakan Western,tapi tetap diolah dengan cita rasa Asia. Kami sajikan secara buffet,namun ada juga yang ala carte. Pengunjung tinggal memilih sesuai selera.Setiap hari ratarata ada 20–26 menu buffet,” tutur Emir. Dari segi interior, Cardamon yang memiliki kapasitas hingga 100 orang lebih mengandalkan desain kontemporer modern.Penataan ruang cenderung mengutamakan warna kontras merah dan hitam serta perpaduan antara desain klasik dan modern. Iringan alunan musik lembut membuat suasana menjadi nyaman pada saat Anda bersantap,baik bersama keluarga, kerabat,maupun rekan bisnis.

Agar tidak membosankan di mata konsumen,menu buffet Cardamon diganti tiap dua minggu sekali. Namun jangan takut, semua masakan di sini merupakan pilihan terbaik para chef andal restoran yang memiliki tagline The Best Selected Asiatic Cuisine ini.”Yang kurang diminati kami ganti,tapi yang disukai tetap dipertahankan,” imbuh Emir. Bukan konsep all you can eat seperti di restoran lain, Cardamon menganut konsep serupa yang bisa diartikan setiap konsumen yang datang bisa terpuaskan oleh kualitas makanan yang disajikan di sini, tanpa harus menikmati banyak masakan agar tidak rugi dengan harga yang sudah dibayar. Dengan demikian, kualitas serta pelayanan di tempat ini akan selalu diutamakan.

Emir menuturkan, salah satu menu favorit Cardamon adalah short ribs yang berasal dari daging sapi yang diolah sedemikian rupa sehingga empuk dengan rasa yang kaya rempah.Bumbunya sangat terasa dan menyerap ke dalam daging. Dengan tambahan saus pilihan, lidah Anda pasti bergoyang ketika menikmatinya.Patut dicoba. Makanan ini juga dibuat fresh karena dimasak ketika pengunjung memesan. Selain itu, tamu juga dapat melihat cara mengolah menu lezat ini secara langsung melalui live cooking di hadapan konsumen. ”Menu ini menjadi andalan karena paling banyak dinikmati dan diminta oleh pengunjung tetap Cardamon,”terang Emir.

Untuk menikmati short ribs,Anda dapat memilih saus yang tersedia yaitu rasa teriyaki, barbeque,mushroom, sweet and sour, dan sweet chili soya. Selain itu, ada pula menu andalan lain yakni mi aceh.Menu asal Bumi Serambi Mekkah ini dibuat tidak terlalu pedas seperti aslinya, namun tetap menawarkan keautentikan serta kekhasan mi aceh.

Di jajaran dessert, Cardamon menyediakan pisang goreng karamel, aneka puding, salad, manisan buah, dan es krim, yang semuanya mampu membangkitkan selera makan. (rendra hanggara- Seputar Indonesia)
Sumber: OpenRice.com

Rabu, 14 Juli 2010

Padu Padan Makanan

Alih Bahasa Oleh: Ratih

Pernahkah kamu makan pagi, siang malam dengan menu yang sama? Bisa jadi jawabannya pernah atau tidak pernah. Tanpa kita sadari, kita memilih makanan bukan hanya berdasarkan keinginan tapi juga berdasarkan kategori makanan. Penelitian mengenai makanan dan budaya mengkategorikan makanan menjadi beberapa bagian. Bukan hanya berdasarkan selera pribadi. Berikut kategori makanan menurut hasil penelitian di negara berkembang dan maju:

  1. cultural superfoods: fungsi makanan ini untuk diet;

  2. prestige foods: makanan berprotein tinggi, mahal atau unik;

  3. body image foods: makanan yang dipercaya dapat mempengaruhi kesehatan, kecantikan dan kesejahteraan;

  4. sympathetic magic foods: makanan yang memiliki kesamaan dari segi bentuk dan warna;

  5. physiologic group foods: makanan yang tidak boleh dikonsumsi bagi kelompok tertentu misalnya gender, usia atau kondisi kesehatan.

Kategorisasi ini memudahkan para peneliti mengidentifikasi dan memahami kebiasaan makan dari berbagai kebudayaan, termasuk soal berikut:

  1. frekuensi konsumsi makanan yang digambarkan melalui model makanan utama dan pelengkap;

  2. tradisi budaya dalam mempersiapkan makanan berdasarkan perayaan tertentu;

  3. makanan harian, mingguan, dan tahunan dalam pola makan serta siklus makan;

  4. perubahan dari fungsi-fungsi makanan yang disebabkan oleh perkembangan budaya, diprediksi dari perubahan pandangan tentang budaya makan.

Makanan yang paling sering dikonsumsi diantaranya: nasi, gandum, jagung, dan sayuran. Sedangkan makanan yang luas penyebarannya namun dikonsumsi dengan frekuensi tertentu seminggu sekali ialah: ayam, selada dan apel. Sedangkan makanan yang dikonsumsi sekali-sekali disebut peripheral foods. Sifatnya pilihan pribadi, bukan kebiasaan budaya secara berkelompok. Pada banyak budaya, terutama pada masyarakat agraris, makanan utama disajikan dengan makanan pelengkap untuk menyeimbangkan kadar nutrisi antara makanan utama dan makanan pelengkap. Nasi, roti dan pasta disajikan dengan sayuran atau tomat. Di Cina, nasi dipadukan dengan sayuran, di Itali mie dipadukan dengan saus tomat (spaghetti), di Meksiko tortilla dengan salsa. Padu padan makanan memang bersifat membudaya pada jenis makanan utama dan lauk. Bagaimana denganmu?


Sumber:

Kittler, Pamela Goyan and Kathryn Sucher. 2008. Food and culture. Belmont: Thomson Wadsworth.


Lihat juga: Loewy, Table 8, dim sum


Selasa, 13 Juli 2010

Nasi Ayam Hainan

Nasi ayam Hainan merupakan masakan Tionghoa yang sering dikaitkan dengan masakan Malaysia atau Singapura, dan juga ditemui di negara berjiran Thailand, serta juga di wilayah Hainan, China. Nasi ayam Hainan yang dinamakan sedemikian karena asal-usulnya dalam makanan Hainan dan pengamalannya oleh populasi orang Tionghoa perantauan bersuku Hainan dalam kawasan Nanyang, versi makanan ini yang didapati di Malaysia/Singapura menggabungkan unsur-unsur masakan Hainan dan Kantonis ditambah lagi dengan citarasa masakan di Asia Tenggara.
sumber: wikipedia
lihat Juga: dim sum, dan Laguna

Senin, 12 Juli 2010

The International Food Policy Research Institute (IFPRI)

The International Food Policy Research Institute (IFPRI) is an international agricultural research center founded in the early 1970s to improve the understanding of national agricultural and food policies to promote the adoption of innovations in agricultural technology. Additionally, IFPRI was meant to shed more light on the role of agricultural and rural development in the broader development pathway of a country.According to its website, the IFPRI "seeks sustainable solutions for ending hunger and poverty."

The IFPRI is part of a network of international research institutes funded in part by the Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), which in turn is funded by governments, private businesses and foundations, and the World Bank.

Scope

IFPRI carries out food policy research and disseminates it through hundreds of publications, bulletins, conferences, and other initiatives. IFPRI was organized as a District of Columbia non-profit, non-stock corporation on March 5, 1975 and its first research bulletin was produced in February 1976. IFPRI has offices in several developing countries, including China, Ethiopia, and India, and has research staff working in many more countries around the world.

Research Areas

IFPRI’s institutional strategy rests on three pillars: research, capacity strengthening, and policy communication.

Research topics have included low crop and animal productivity, and environmental degradation, water management, fragile lands, property rights, collective action, sustainable intensification of agricultural production, the impact of climate change on poor farmers, the problems and opportunities of biotechnology,food security, micronutrient malnutrition, microfinance programs, urban food security, gender and development, and resource allocation within households.

IFPRI also analyzes agricultural market reforms, trade policy, World Trade Organization negotiations in the context of agriculture, institutional effectiveness, crop and income diversification, postharvest activity, and agroindustry.

The institute is involved in measuring the Millennium Development Goals project and supports governments in the formulation and implementation of development strategies.

Further work includes research on agricultural innovation systems and the role of capacity strengthening in agricultural development.

Products and Publications

IFPRI targets its policy and research products to many audiences, including developing-country policymakers, nongovernmental organizations (NGOs), and civil-society organizations, "opinion leaders", donors, advisers, and media.

Publications by IFPRI include books, research reports, but also newsletters, briefs, and fact sheets. It is also involved in the collection of primary data and the compilation and processing of secondary data.

In 1993 IFPRI introduced the 2020 Vision Initiative, which aims at coordinating and supporting a debate among national governments, nongovernmental organizations, the private sector, international development institutions, and other elements of civil society to reach food security for all by 2020.

As of 2006 IFPRI produces the (GHI) yearly measuring the progress and failure of individual countries and regions in the fight against hunger. The GHI is a collaboration of IFPRI, the Welthungerhilfe, and Concern Worldwide.

IFPRI has produced the related Hunger Index for the States of India (ISHI) (2008) and the Sub-National Hunger Index for Ethiopia (2009).

Organizational structure

IFPRI is made up of the Office of the Director General, a Communications Division and the Finance and Administration Division, and 5 research divisions:

  • Development Strategy and Governance

  • Environment and Production Technology

  • Poverty, Health, and Nutrition

  • Knowledge, Capacity, and Innovation

  • Markets, Trade, and Institutions

IFPRI hosts several research networks:

  • The (ASTI)

  • The CGIAR Systemwide Program on Collective Action and Property Rights (CAPRi)

  • Harvest Plus

  • HarvestChoice

Impact

The evaluation of policy-oriented research poses a lot of challenges including the difficulty to quantify the impact of knowledge and ideas in terms of reduced poverty and or increased income or the attribution of a change in these numbers to a specific study or research project.

Despite these challenges, studies find that IFPRI research had spill-over effects for specific country-level research, but also in setting the global policy agenda, for example in the areas biodiversity (influencing the International Treaty on Plant Genetic Resources) and trade (with respect to the Doha Development Round of trade negotiations).

Another example of IFPRI's impact on policy formulation was the 2007–2008 world food price crisis. IFPRI was able to quickly pull together relevant research and its resulting recommendation where included in the United Nations’ Comprehensive Framework for Action on food security.

Criticism

CGIAR and its agencies, including the IFPRI have been criticized for their connections to Western governments and multinational agribusiness, although its research publications have also been cited by critics of agribusiness and Genetically Modified Organisms in agriculture. IFPRI describes itself as "neither an advocate nor an opponent of genetically modified crops."

Source: www.wikipedia.com

See Also: seafood, dim sum, wine




Rabu, 16 Juni 2010

Sukiyaki

Sukiyaki (すき焼き, スキヤキ ?) adalah irisan tipis daging sapi, sayur-sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara direbus. Sukiyaki dimakan dengan mencelup irisan daging ke dalam kocokan telur ayam.

Sayur-sayuran untuk Sukiyaki misalnya bawang bombay, daun bawang, sawi putih, shungiku (nama daun dari pohon keluarga seruni), jamur shiitake, dan jamur enoki. Sebagai pelengkap ditambahkan ito konnyaku atau shirataki yang berbentuk seperti soun berwarna bening atau sedikit abu-abu.

Sukiyaki memiliki dua versi, Sukiyaki versi daerah Kansai dan Sukiyaki versi daerah Kanto yang berbeda cara penyajian, jenis bumbu dan rasa.

Menurut Sukiyaki versi Kansai, Sukiyaki hanya dimasak dengan bumbu kecap asin dan gula pasir, sedangkan Sukiyaki versi Kanto dimasak menggunakan saus Warishita yang merupakan campuran dashi, kecap asin, gula pasir, dan mirin yang dimasak terlebih dulu.

Menurut cara Kansai, potongan lemak sapi dicairkan di dalam panci sebelum memasukkan irisan daging sapi. Bumbu berupa gula pasir dan kecap asin dituangkan sekaligus dalam jumlah banyak di atas daging yang sudah matang lalu diaduk-aduk dengan sayur-sayuran hingga matang. Menurut cara Kanto, bumbu warishita dididihkan dulu di dalam panci sebelum semua bahan dimasukkan.
sumber: wikipedia
lihat juga: restaurant, restoran, cafe

Selasa, 15 Juni 2010

Singapore food @chatter box

sebelumnya:japanese food, chinese food, sushi, ramen
Promo bertajuk “Sing…Sing…Sing …Singapore food@Chatter Box ” belum lama ini digelar di Chatter Box Grand Indonesia memperkenalkan menu-menu andalan Chatter Box dengan tema makanan khas Singapore yang menggoda selera. Beberapa menu unggulan khas Singapore tersebut seperti Roast Duck with hainan Rice, Walking Hainan Chicken Rice , Fried Hokkian Mie dan Rojak Singapore. Semua hidangan bercitarasa otentik tersebut diracik secara khusus oleh chef asal Singapura, George Lee yang sekaligus merupakan Executive Chef Chatter Box.

Untuk makanan pembangkit selera Anda bisa mencoba Chatter Box Prawn Laksa, laksa special yang disajikan dengan lontong dan mie hongkong dari Chatter Box ini punya rasa gurih yang kental dan lezat. Laksa Chatter Box memiliki perbedaan dengan laksa yang yang pernah kita temukan selama ini. Selain menggunakan susu segar sebagai campuran kuahnya, laksa ini dan semua makanan di Chatter Box dijamin bebas MSG.

Buat pecinta Rojak bisa mencicipi rujak khas Singapore yang dikenal dengan sebutan Rojak Singapore. Meskipun tampilannya mirip dengan rujak buah tetapi racikan bumbunya sangat berbeda dengan rasanya yang pedas, manis dan segar.

Chatter Box menggelar promo “Sing…Sing…Sing…Singapore food” ini di 8 outlet Chatter Box di Jakarta hingga 15 Juli 2010. Selama masa promo pengunjung bisa menikmati ½ harga untuk setiap pembelian menu ke-2 khusus bagi hidangan Singapura.

Senin, 14 Juni 2010

Nonton Bareng Piala Dunia 2010

Piala dunia sudah mulai masing-masing orang punya jagoan dan biasanya membela jagoannya habis-habisan.
Nobar atau nonton bareng lebih seru dibanding nonton sendirian di rumah dimana kita bisa teriak-teriak mendukung kesebelasan jagoan kita berharap cemas ketika bola mulai mendekati gawang lawan bahkan ada yang tutup mata saat bola menyambangi gawang team kesayangannya.
Tak usah bingung mau nobar dimana sekarang sudah banyak tempat-tempat asik buat nobar karena banyak restaurant, restoran, cafe, menyediakan acara nonton bareng piala dunia. Dimana kita bisa juga sambil menyantap makanan dan minuman kesukaan sambil membela team kesayangan.
Karena seperti sepak bola makanan dan minuman juga masing-masing punya selera, ada yang suka japanese food, seperti sushi, ramen. ada pula yang suka chinese food seperti dim sum. Ada pula yang yang suka makanan khas western seperti pizza, pasta, steak, ice cream, cake, wine. Ada pula yang suka seafood dan tak ketinggalan makanan khas dari Indonesia seperti Nasi goreng, soto, sate, dll.
Jadi meriahkan pesta piala dunia dengan nonton bareng sambil menikmati makanan kesukaanmu itu lebih mengasikkan . Apalagi kalau pengalaman itu bisa di abadikan dan di ceritakan kembali di openrice kali aja dapet voucher makan gratis lumayan kan :)